Indonesia Dinilai Punya Modal Besar Jadi Contoh Persatuan Sunni–Syiah dan Antaragama Dunia

Permabi
By -
0

 


Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh perbedaan agama, mazhab, dan politik, Indonesia dinilai memiliki modal sosial dan sejarah kuat untuk menjadi contoh persatuan Sunni–Syiah serta dialog lintas agama berbasis kemanusiaan dan kebinekaan.


 

Persatuan dalam Keberagaman di Tengah Dunia yang Terpolarisasi

Di saat banyak negara terjebak dalam konflik identitas berbasis agama, mazhab, dan kepentingan politik, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menunjukkan kepada dunia bahwa persatuan dalam keberagaman bukan hanya mungkin, tetapi juga niscaya.

Sebagai bangsa yang terdiri dari ratusan etnis, bahasa, dan keyakinan, Indonesia telah lama hidup dengan realitas pluralitas. Bahkan dalam Islam sendiri, terdapat beragam corak dan mazhab, mulai dari Sunni, Syiah, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, hingga berbagai ekspresi keislaman lainnya.

Namun, realitas ini tidak selalu dikelola secara sehat. Sejumlah pihak menilai bahwa perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan justru kerap dimanfaatkan untuk menyulut kecurigaan dan kebencian, bukan memperkuat persaudaraan.

 

Mungkinkah Sunni dan Syiah Bersatu?

Pertanyaan tentang kemungkinan persatuan Sunni–Syiah kembali mengemuka. Para pengamat dan tokoh agama menilai bahwa persatuan tersebut sangat mungkin terjadi, selama dialog dibangun di atas keterbukaan, rasionalitas, dan semangat kemanusiaan.

Secara teologis, Sunni dan Syiah memiliki lebih banyak persamaan dibanding perbedaan. Keduanya sama-sama meyakini Allah Yang Maha Esa, Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, serta Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Perbedaan mazhab dinilai lebih bersifat historis dan metodologis, bukan prinsipil.

 

Persamaan Kemanusiaan Lintas Agama

Tidak hanya dalam Islam, nilai-nilai kemanusiaan juga menjadi titik temu lintas agama. Pemeluk Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu sama-sama mengajarkan kasih sayang, kejujuran, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menegaskan:

“Agama bukanlah sumber konflik, tetapi sering diperalat untuk konflik. Yang harus dilawan adalah mentalitas eksklusif, bukan keyakinan itu sendiri.”

Pernyataan ini kerap dijadikan rujukan dalam dialog lintas iman di Indonesia.

 

Suara Kemanusiaan dari Tokoh Dunia

Pesan persatuan lintas iman juga digaungkan oleh tokoh-tokoh dunia:

  • Imam Ali bin Abi Thalib menyatakan:
    “Manusia itu ada dua: saudaramu dalam iman atau setaramu dalam kemanusiaan.”

  • Paus Fransiskus, saat bertemu Ayatullah Ali al-Sistani di Irak pada 2021, menegaskan bahwa agama tidak boleh dijadikan pembenaran kekerasan. Pertemuan ini dipandang sebagai tonggak dialog Katolik–Syiah global.

  • Nelson Mandela, tokoh rekonsiliasi Afrika Selatan, pernah berkata:
    “Tidak ada yang terlahir membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya.”

Pesan-pesan ini memperkuat pandangan bahwa agama seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok pemisah.


Mengapa Indonesia Bisa Menjadi Contoh Dunia

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sistem demokrasi, dan fondasi kebinekaan, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi role model Islam inklusif dan dialog lintas agama.

Jika dialog Sunni–Syiah dapat dikelola secara sehat dan berjalan seiring dengan dialog antaragama, Indonesia berpotensi menunjukkan wajah Islam yang ramah, modern, dan berorientasi pada kemanusiaan.

Pengamat menilai bahwa dialog tersebut dapat difokuskan pada isu-isu nyata, seperti:

  • penanggulangan kemiskinan,

  • pemerataan pendidikan,

  • penanganan bencana alam,

  • serta melawan ujaran kebencian dan ekstremisme.


Langkah-Langkah Konkret Menuju Persatuan

Sejumlah langkah konkret dinilai penting untuk memperkuat persatuan:

  1. Forum Persaudaraan Umat Beragama dan Bermazhab
    Difasilitasi pemerintah, ormas keagamaan, dan tokoh masyarakat.

  2. Dialog Publik yang Setara
    Mengedepankan saling memahami, bukan perdebatan dogmatis.

  3. Pendidikan Toleransi Sejak Dini
    Kurikulum yang mengenalkan perbedaan secara nyata dan kontekstual.

  4. Kolaborasi Sosial Bersama
    Program kemanusiaan lintas agama dan mazhab dalam bidang sosial, kesehatan, dan lingkungan.


Penutup: Persatuan sebagai Kebutuhan Zaman

Persatuan tidak berarti menyeragamkan keyakinan, melainkan menyatukan kekuatan di tengah perbedaan. Jika Sunni dan Syiah dapat hidup berdampingan secara damai, dan umat Islam mampu bersinergi dengan pemeluk agama lain dalam kerja-kerja kemanusiaan, dunia akan melihat bahwa agama adalah sumber harapan.

Seperti kata Mahatma Gandhi:

“Agama yang tidak memberi ruang bagi kasih sayang bukanlah agama yang sejati.”

Banyak pihak menilai, Indonesia memiliki peluang historis untuk menyalakan cahaya persaudaraan dari Timur—bukan cahaya konflik, melainkan cahaya ukhuwah, kemanusiaan, dan perdamaian.

Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)