Krisis Sampah di Gaza: Bertahan Hidup di Atas Tumpukan Limbah, Di Tengah Penyakit dan Duka yang Tak Usai

Permabi
By -
0

 


Krisis kemanusiaan di Gaza kian memburuk. Warga bertahan hidup di antara tumpukan sampah, badai musim dingin, dan ancaman penyakit. Kisah Hajja An’am—penyintas pemboman yang merawat anak penyandang disabilitas—menjadi potret ketabahan di tengah gencatan senjata yang tak membawa kedamaian.


Hidup di Antara Sampah dan Bau Kematian

Di Gaza, hidup tidak lagi sekadar bertahan dari bom. Ia kini berarti bertahan dari sampah—gunungan limbah yang menutup jalan, mengepung tenda-tenda pengungsian, dan mengundang penyakit. Layanan pengangkutan sampah lumpuh; air bersih terbatas; sanitasi nyaris tak ada. Lalat, tikus, dan bau menyengat menjadi bagian dari keseharian.

Anak-anak bermain di dekat tumpukan limbah. Para orang tua menutup hidung dengan kain tipis, mencoba melindungi keluarga dari udara yang kotor. Di malam hari, angin membawa bau busuk ke dalam tenda rapuh—mengingatkan bahwa krisis ini tidak mengenal jeda.

 

Ketabahan yang Diuji Badai dan Dingin

Gencatan senjata yang diharapkan membawa jeda, justru beriring dengan badai musim dingin. Hujan deras dan angin kencang merobek tenda-tenda. Dingin menembus tulang. Dalam waktu kurang dari 24 jam, sedikitnya tujuh orang dilaporkan meninggal dunia akibat badai hebat dan hipotermia—sebagian besar di antara mereka tinggal di hunian darurat.

Bagi mereka yang selamat, pagi datang dengan pakaian basah, selimut yang tak lagi hangat, dan rasa cemas akan penyakit yang mengintai: infeksi kulit, gangguan pernapasan, diare, dan demam yang mudah menyebar di lingkungan tanpa sanitasi.

 

Hajja An’am: Bertahan, Meski Damai Tak Kunjung Datang

Di antara ribuan kisah, Hajja An’am berdiri sebagai simbol keteguhan. Ia selamat dari pemboman dan pengungsian berulang—bersama anaknya yang penyandang disabilitas. Setiap langkah evakuasi adalah perjuangan; setiap malam adalah ujian kesabaran.

“Gencatan senjata datang,” katanya lirih, “tetapi kedamaian tidak.”
Ia kini menghadapi musuh yang berbeda: dingin, kotoran, dan penyakit—tanpa obat yang cukup, tanpa tempat berlindung yang layak. Namun ia tetap bangun setiap pagi, membersihkan ruang kecil di depan tenda, dan menguatkan anaknya dengan pelukan.

 

Bangsa yang Bertahan di Ujung Daya

Warga Gaza sering disebut bangsa yang tabah. Ketabahan itu tampak pada cara mereka berbagi roti terakhir, menyalakan api kecil untuk menghangatkan tenda tetangga, dan merawat yang sakit meski persediaan menipis. Di tengah kehancuran, martabat manusia dijaga dengan kesabaran.

Namun ketabahan bukan alasan untuk membiarkan penderitaan berlanjut. Krisis sampah dan sanitasi adalah bom waktu kesehatan. Tanpa intervensi cepat—pengelolaan limbah, air bersih, perlindungan musim dingin, dan layanan kesehatan—korban akan terus berjatuhan, bahkan tanpa satu pun ledakan.

 

Seruan Kemanusiaan

Kisah Gaza hari ini bukan sekadar statistik. Ia adalah napas yang tersengal di dalam tenda basah, tangan yang menggigil memeluk anak, dan harapan yang tetap menyala meski dunia terasa jauh.
Gencatan senjata tanpa kemanusiaan bukanlah damai. Dunia diminta untuk melihat, mendengar, dan bertindak—agar hidup tidak lagi harus dipertaruhkan di atas tumpukan sampah.

Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)