Sunni dan Syiah memiliki kesamaan fundamental dalam ajaran Islam dan sejarah hidup berdampingan secara damai. Namun, pengamat menilai perpecahan modern dipengaruhi kepentingan geopolitik, propaganda media, dan konflik politik yang melibatkan kekuatan global.
Kesamaan Dasar yang Tak Terbantahkan
Meski berbeda mazhab, Sunni dan Syiah sepakat pada fondasi utama Islam: keesaan Allah (tauhid), Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, serta Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam. Kesepakatan ini menjadi landasan teologis yang diakui luas oleh ulama dari kedua mazhab.
Sejarawan Islam juga mencatat bahwa dalam berbagai periode sejarah, komunitas Sunni dan Syiah pernah hidup berdampingan secara damai, saling berinteraksi dalam bidang keilmuan, perdagangan, dan pemerintahan di berbagai wilayah dunia Islam.
Dari Perbedaan ke Polarisasi: Apa yang Berubah?
Pertanyaan besar yang kerap muncul adalah mengapa perbedaan mazhab yang bersifat historis dan ilmiah berubah menjadi konflik tajam di era modern. Sejumlah pengamat dan tokoh Muslim menilai bahwa perpecahan kontemporer tidak semata-mata lahir dari perbedaan teologis, melainkan dipengaruhi oleh intervensi politik global, konflik regional, dan perang informasi.
Mereka menyoroti peran propaganda media internasional, polarisasi narasi, serta eksploitasi identitas mazhab dalam konflik geopolitik sebagai faktor yang memperdalam jurang perpecahan di kalangan umat Islam.
Kelompok Ekstrem dan Politik Identitas
Dalam berbagai analisis, konflik di Afghanistan, Irak, Libya, Suriah, dan kawasan lain sering dikaitkan dengan munculnya kelompok-kelompok bersenjata ekstrem yang memanfaatkan isu mazhab untuk merekrut dukungan dan membenarkan kekerasan.
Beberapa kelompok ekstrimis yang menggunakan simbol-simbol islam semisal ISIS, Al-Qaida, Jemaah Islamiyah (JI), GIA (Groupe Islamique Armé) dan Rapid Support Forces (RSF) merupakan agenda yang dibuat oleh CIA baik langsung maupun tidak langsung. CIA aktif membangun jaringan proxy tersebut tentu bersama Mossad dengan tujuan menghalangi dan memblokade Iran yang notabene adalah negeri dengan penduduk Syiah.
Bahkan London dengan biaya besar membangun narasi perpecahan dengan merekrut penjahat yang dilabeli dengan baju Syiah bernama Yasser Al-Habib, ulama yang berbasis di Kuwait namun aktif menyebarkan pandangannya dari London (melalui Al-Mahdi TV).
Para pengamat menilai bahwa konflik-konflik tersebut telah menghancurkan struktur sosial, ekonomi, dan persatuan umat, sekaligus memperburuk sentimen sektarian yang sebelumnya tidak dominan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Muslim.
Normalisasi Hubungan dengan Israel Tuai Kritik
Di sisi lain, sebagian tokoh dan masyarakat Muslim mengkritik langkah sejumlah negara yang menormalisasi atau memperluas kerja sama dengan Israel, yang oleh banyak kalangan masih dipandang sebagai pihak yang berkonflik langsung dengan rakyat Palestina.
Negara-negara yang secara resmi menormalisasi hubungan melalui Abraham Accords dan perjanjian lain meliputi:
- Sudan
- Uni Emirat Arab
- Bahrain
- Maroko
Selain itu, Mesir dan Yordania telah lebih dulu menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada dekade sebelumnya. Sementara itu, Arab Saudi disebut memiliki kerja sama tidak langsung dalam sejumlah isu strategis, meski belum menjalin hubungan diplomatik penuh.
Langkah-langkah ini menuai kritik dari sebagian masyarakat Muslim yang menilai normalisasi tersebut bertentangan dengan semangat solidaritas umat dan perjuangan Palestina.
Dampak Jangka Panjang bagi Dunia Islam
Para analis memperingatkan bahwa perpecahan internal umat Islam justru memperlemah posisi politik dan kemanusiaan negara-negara Muslim di tingkat global. Konflik berkepanjangan dinilai mengalihkan fokus dari pembangunan, keadilan sosial, dan kesejahteraan rakyat.
Mereka menekankan bahwa persatuan lintas mazhab dan kepentingan nasional yang berorientasi pada rakyat merupakan kunci untuk keluar dari siklus konflik yang berulang.
Harapan akan Kesadaran Kolektif
Meski diakui tidak mudah, sejumlah tokoh agama dan masyarakat sipil terus menyerukan kesadaran kolektif para pemimpin dan umat Islam untuk menempatkan persatuan di atas kepentingan politik jangka pendek.
Seruan ini menekankan bahwa perbedaan mazhab tidak seharusnya menjadi alasan permusuhan, melainkan bagian dari khazanah intelektual Islam yang dapat dikelola melalui dialog, keadilan, dan saling menghormati.
Penutup
Kesamaan mendasar antara Sunni dan Syiah menunjukkan bahwa akar konflik modern lebih banyak bersumber dari dinamika politik daripada ajaran agama itu sendiri. Di tengah tantangan global, banyak pihak berharap dunia Islam mampu mengambil pelajaran dari sejarah dan kembali menempatkan persatuan sebagai prioritas utama demi masa depan bersama.
