Israel Terus Mencegah Jurnalis Asing Masuk ke Gaza, Dunia Dianggap Terhalang Saksikan Kekejaman

Permabi
By -
0

 


Palestina - Israel terus melarang masuknya jurnalis asing ke Jalur Gaza meskipun puluhan media internasional mendesak akses. Larangan ini terjadi di tengah gelombang serangan yang menewaskan ratusan jurnalis dan membatasi pelaporan independen tentang konflik dan dugaan kejahatan di wilayah tersebut.


Jalur Gaza — Kebijakan Israel Menghambat Liputan Independen

Israel kembali menjadi sorotan dunia setelah melarang jurnalis asing memasuki Jalur Gaza, langkah yang dinilai oleh kelompok kebebasan pers sebagai upaya untuk membatasi pelaporan independen tentang konflik yang sedang berlangsung di wilayah itu.

Pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pembatasan akses tersebut dilakukan atas alasan keamanan, karena memasuki wilayah perang dapat membahayakan nyawa para wartawan. Namun, kebijakan itu justru semakin memperkuat kritik internasional bahwa Israel berusaha menutup pintu terhadap peliputan yang tidak dikontrol secara resmi oleh pihak militer atau negara. 

 

257 Jurnalis Tewas, Tak Masuk Dalam Pertimbangan Pemerintah?

Menurut Palestinian Journalists Forum, sebanyak 257 jurnalis telah tewas akibat serangan di Gaza sejak konflik besar dimulai pada 7 Oktober 2023, termasuk lebih dari 55 jurnalis yang tewas selama tahun 2025 saja.

Para kelompok kebebasan pers dan pers internasional menilai angka ini mencerminkan konflik yang sangat berbahaya bagi pekerja media di wilayah itu — jauh melebihi konflik lain di dunia dalam beberapa dekade terakhir.

 

Serangan yang Menargetkan Jurnalis: Nama-Nama yang Gugur

Berikut beberapa jurnalis yang meninggal dunia saat meliput konflik di Gaza, sebagai bagian dari dampak langsung kekerasan bersenjata di kawasan tersebut:

Yahya Sobeih – Jurnalis Palestina dan editor lokal, tewas oleh serangan udara di Gaza City pada 7 Mei 2025 saat meliput kondisi di lapangan.

Hossam Shabat – Reporter Palestina yang tewas pada 24 Maret 2025 dalam serangan udara yang menghantam wilayah Beit Lahia.

Ismail Abu Hatab – Fotojurnalis dan pembuat film asal Gaza, tewas akibat serangan udara pada 30 Juni 2025.

Ayat Khadoura – Jurnalis lepas asal Beit Lahia, tewas bersama keluarganya dalam serangan di rumah mereka pada 20 November 2023.

Anas al-Sharif dan Mohammed Qreiqeh – Dua wartawan jaringan Al Jazeera dan tiga kamerawan mereka tewas dalam serangan di luar Rumah Sakit Al-Shifa pada 10 Agustus 2025.

Ahmed Abu Mutair – Insinyur siaran dan jurnalis tewas akibat serangan drone tepat di kantor media di Gaza, Oktober 2025.

Para korban ini hanyalah sebagian dari ratusan pekerja media yang telah kehilangan nyawa sepanjang konflik. Organisasi internasional termasuk International Federation of Journalists (IFJ) dan Committee to Protect Journalists (CPJ) mengecam keras kondisi yang membuat jurnalis menjadi target serangan. 
 

Blokade Informasi dan Hak Publik atas Kebenaran

Pembatasan akses bagi jurnalis asing berarti informasi yang dapat diterima oleh publik global sering kali datang dari sumber yang sangat terbatas — terutama dari jurnalis lokal yang tetap berada di Gaza meskipun berada dalam risiko besar. Banyak organisasi pers internasional telah menuntut agar Israel menghapus larangan tersebut dan memberikan jaminan keselamatan bagi media untuk melaporkan langsung dari lapangan.

Kelompok seperti IFJ menyebut kebijakan blokade media ini sebagai pelanggaran terhadap kebebasan pers dan hak publik untuk mendapatkan informasi yang akurat dan lengkap tentang konflik yang mengakibatkan ribuan korban sipil
 

Reaksi Dunia dan Desakan Akses Bebas Untuk Jurnalis

Organisasi jurnalis internasional, termasuk Foreign Press Association (FPA) dan berbagai kelompok hak asasi, telah secara konsisten mendesak Israel untuk membuka akses media yang independen ke Gaza, terutama setelah beberapa perjanjian gencatan senjata menyarankan perlunya transparansi dan pelaporan bebas di wilayah konflik.

Kelompok-kelompok ini menegaskan bahwa tanpa kehadiran jurnalis independen, dunia hanya akan menerima narasi satu sisi atau informasi yang dikontrol secara ketat, yang dapat membatasi pemahaman publik atas situasi nyata di lapangan.
 

Kesimpulan: Menjaga Kebebasan Pers di Tengah Perang

Pembatasan akses jurnalis ke Jalur Gaza oleh Israel dipandang oleh banyak pemerhati kebebasan pers sebagai bentuk pembungkaman terhadap pelaporan independen di wilayah konflik. Dengan ratusan jurnalis tewas, tantangan terhadap hak untuk meliput dan menyebarkan informasi menjadi semakin tajam — menimbulkan pertanyaan serius tentang hukum humaniter internasional, keselamatan pekerja media, serta hak publik untuk mengetahui fakta.

 

 

Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)