Persatuan Sunni–Syiah dan Antaragama Dinilai Kunci Menangkal Politik Adu Domba di Timur Tengah

Permabi
By -
0

 


Timur Tengah - Ulama dan tokoh lintas mazhab menegaskan bahwa persatuan Sunni–Syiah, antaragama, dan antarsuku merupakan fondasi penting stabilitas umat. Sejarah membuktikan bahwa persatuan ini berhasil menggagalkan konflik sektarian di Irak dan Suriah serta menolak narasi pemecah belah.


Persatuan Umat Jadi Isu Sentral di Tengah Konflik Global

Wacana persatuan antara Sunni dan Syiah, serta persatuan lintas agama dan suku, kembali mengemuka di tengah meningkatnya konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Para ulama dan cendekiawan Muslim menilai bahwa persatuan umat merupakan faktor utama yang mampu menggagalkan agenda sektarian dan ekstremisme yang kerap dimanfaatkan dalam konflik bersenjata.

Di Irak dan Suriah, misalnya, kerja sama lintas mazhab dan identitas sosial dinilai berperan penting dalam meredam konflik horizontal dan melemahkan kelompok ekstremis yang mengandalkan politik adu domba berbasis identitas.

Sunni dan Syiah: Istilah Pasca-Kenabian

Para sejarawan Islam sepakat bahwa tidak ada satu pun hadis sahih maupun ayat Al-Qur’an yang menyatakan Nabi Muhammad SAW sebagai Sunni atau Syiah. Istilah tersebut baru muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, sebagai bentuk pengelompokan umat Islam yang berkaitan dengan perbedaan pandangan politik dan kepemimpinan, serta kemudian berkembang menjadi perbedaan mazhab fikih dan teologi.

Dengan demikian, perbedaan Sunni dan Syiah merupakan fenomena historis, bukan identitas yang diperkenalkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam dakwah Islam.

Pandangan Ulama Moderat: Teladan Syekh Mahmud Syaltut

Salah satu tokoh penting yang sering dijadikan rujukan dalam isu persatuan mazhab adalah Syekh Mahmud Syaltut, Grand Sheikh Al-Azhar pada abad ke-20. Ia dikenal sebagai ulama besar yang berpikiran moderat dan progresif, serta murid dari pemikiran pembaruan Islam Syekh Muhammad Abduh.

Syekh Mahmud Syaltut secara tegas menyatakan bahwa mazhab Ja’fari (Syiah) adalah mazhab Islam yang sah, setara dengan mazhab-mazhab Sunni. Pandangannya menjadi tonggak penting dalam dialog dan rekonsiliasi Sunni–Syiah di dunia Islam.

Bahaya Sektarianisme dalam Konflik Modern

Pengamat politik dan tokoh agama menilai bahwa sektarianisme kerap dijadikan alat politik untuk memecah belah masyarakat. Perbedaan mazhab, agama, dan suku sering dimanipulasi demi kepentingan kekuasaan dan dominasi, sehingga konflik yang seharusnya bersifat politik atau ekonomi berubah menjadi konflik identitas yang berkepanjangan.

Dalam konteks ini, seruan untuk tidak menjadikan perbedaan mazhab sebagai alat permusuhan terus disuarakan oleh tokoh agama dan masyarakat sipil.

Seruan Moral: Menjaga Persatuan dan Nurani Kemanusiaan

Para ulama dan aktivis kemanusiaan menekankan pentingnya peran individu dalam menjaga persatuan. Masyarakat diimbau untuk tidak terjebak dalam narasi kebencian dan provokasi sektarian, serta menjadikan nilai kemanusiaan, keadilan, dan persaudaraan sebagai landasan sikap.

Persatuan lintas mazhab dan identitas sosial dinilai bukan hanya ajaran moral, tetapi juga strategi nyata untuk melindungi umat dari kehancuran akibat konflik internal.

Kesimpulan: Persatuan sebagai Benteng Terkuat Umat

Sejarah Islam dan pengalaman konflik modern menunjukkan bahwa persatuan Sunni–Syiah, antaragama, dan antarsuku merupakan benteng terkuat dalam menghadapi tantangan eksternal maupun internal. Dengan menolak politik adu domba dan mengedepankan nilai persaudaraan, umat diharapkan mampu menjaga martabat, stabilitas, dan masa depan bersama.

Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)