Tokoh Dunia Islam Serukan Persatuan Sunni–Syiah: Perbedaan Mazhab Bukan Alasan Perpecahan Umat

Permabi
By -
0

 


Dunia - Ulama dan tokoh Muslim dari Mesir, Iran, Irak, Indonesia, hingga Lebanon menegaskan pentingnya persatuan Sunni–Syiah. Mereka sepakat bahwa perbedaan mazhab adalah khazanah intelektual Islam, bukan dasar permusuhan atau konflik sektarian.


Seruan Global untuk Persaudaraan Umat Islam

Seruan persatuan antara Sunni dan Syiah tidak hanya datang dari satu wilayah atau mazhab, tetapi menggema dari berbagai negara dengan latar belakang budaya dan politik yang berbeda. Para ulama dan pemimpin Muslim sepakat bahwa konflik sektarian telah lebih banyak membawa kehancuran dibanding manfaat, serta sering dimanfaatkan oleh kepentingan politik.

Mesir: Syekh Mahmud Syaltut (Al-Azhar)

Syekh Mahmud Syaltut, Grand Sheikh Al-Azhar (1958–1963), menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam isu rekonsiliasi Sunni–Syiah.

Pernyataan beliau:

“Mazhab Ja’fari adalah mazhab Islam yang sah untuk diikuti, sebagaimana mazhab-mazhab Sunni lainnya. Tidak ada kewajiban bagi seorang Muslim untuk terikat pada satu mazhab tertentu.”

Pernyataan ini menjadi tonggak historis pengakuan resmi lembaga Sunni tertinggi terhadap Syiah sebagai bagian dari Islam.

Iran: Ayatollah Ali Khamenei

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berulang kali menekankan larangan mencaci tokoh-tokoh yang dihormati oleh mazhab lain.

Pernyataan beliau:

“Menyakiti kehormatan simbol-simbol Sunni adalah haram. Persatuan umat Islam adalah kewajiban syar’i.”

Fatwa ini sering dikutip sebagai dasar teologis persatuan lintas mazhab.

Irak: Ayatollah Ali al-Sistani

Ulama Syiah paling berpengaruh di Irak, Ayatollah Ali al-Sistani, dikenal sebagai figur pemersatu di tengah konflik sektarian.

Pernyataan beliau:

“Sunni dan Syiah adalah satu umat. Mereka adalah saudara, bahkan lebih dari sekadar saudara—mereka adalah satu jiwa.”

Seruan ini berperan besar dalam meredam perang saudara dan mencegah konflik horizontal pasca-invasi Irak.

Lebanon: Sayyid Hassan Nasrallah

Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon kerap menegaskan bahwa konflik mazhab bukan konflik ajaran, melainkan konflik politik.

Pernyataan beliau:

“Pertikaian Sunni–Syiah bukan berasal dari Al-Qur’an atau Nabi, melainkan diciptakan untuk memecah umat dan melemahkan perlawanan.”

Indonesia: KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Mantan Presiden RI dan tokoh Nahdlatul Ulama, KH Abdurrahman Wahid, dikenal sebagai simbol Islam moderat dan inklusif.

Pernyataan beliau:

“Perbedaan mazhab dalam Islam adalah kekayaan intelektual, bukan alasan untuk saling menyesatkan atau memusuhi.”

Gus Dur secara terbuka membela hak hidup dan beribadah umat Syiah di Indonesia.

Yaman: Habib Ali al-Jifri

Ulama Sunni berpengaruh dari Yaman yang aktif dalam dialog lintas mazhab.

Pernyataan beliau:

“Persatuan umat Islam lebih utama daripada perdebatan mazhab. Kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas mazhab orang lain, tetapi atas akhlak kita.”

Pakistan: Dr. Muhammad Tahir-ul-Qadri

Ulama Sunni Pakistan yang vokal menentang ekstremisme dan kekerasan sektarian.

Pernyataan beliau:

“Membunuh Muslim lain karena perbedaan mazhab adalah kejahatan besar yang bertentangan dengan Islam.”

Kesamaan Pesan Para Tokoh

Dari berbagai negara dan mazhab, terdapat benang merah yang sama:

  • Sunni dan Syiah adalah bagian dari umat Islam

  • Perbedaan mazhab bukan dasar permusuhan

  • Konflik sektarian lebih sering dipicu kepentingan politik

  • Persatuan umat adalah kewajiban moral dan keagamaan

Penutup: Persatuan sebagai Amanah Sejarah

Seruan para ulama lintas mazhab ini menunjukkan bahwa persatuan bukanlah utopia, melainkan pilihan sadar yang didukung oleh dalil, sejarah, dan akal sehat. Di tengah dunia yang terus dilanda konflik identitas, pesan persaudaraan Sunni–Syiah menjadi pengingat bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kebencian atas nama mazhab.

Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)